Daftar di sini Login Berlangganan
Artikel Kategori
Hiburan
Makanan
Wisata
Pendidikan
Budaya
Ilmu/Tek
Umum
Lintas Daerah
Umum Artikel
catatan kecilku
Rindu Yang Ke Sembilan
Belajar dari Sebuah Mobil
Bertahan dibalik Ke "khas" an.
Kecap Legendaris dari Majalengka
Belajar dari Kemasan
Catatan Kecil Nostalgia
PAKU dan AMARAH
1001 Burung Kertas
Umum Berita
KEHILANGAN
POLSEK CIWARINGIN MENGGELAR PELAYANAN TERPADU
"TELAH HILANG BPKB Sepeda Motor"
TELAH MENINGGALKAN RUMAH
“Modus Over Boking, Berujung Penipuan”
Manis Gula-Gula Cinta
Dua Siswi Mengaku Dicabuli
Kegiatan Peningkatan Pengolahan dan Pemasaran Produk Ikan dan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan Tahun 2011
UPAYA MENEGAKKAN KEWENANGAN DAERAH SESUAI DENGAN UU No.22/1999
Kecamatan Talaga Juara Umum MTQ Ke-42 Tingkat Kabupaten Majalengka
Bupati Majalengka membuka secara resmi MTQ ke-42
Umum Blog
Lucas' Busy Blog
d'_va
wartamajalengka
Iklan di Sini - Dapatkan Jangkauan Worldwide dan Lokal dengan mempromosikan bisnis Anda di warta-majalengka.com
Artikel > Umum > Aku dan Pabrik Gula (oleh: Momon S. Maderoni)

Aku dan Pabrik Gula

Komentar (0) (di Umum) - oleh: Momon S. Maderoni - 30-DES-2011 20:53
Pabrik Gula adalah bagian yang tidak terlepas sejarah kehidupan bangsa kita.

Sayangnya, Pabrik Gula satu persatu hilang, bahkan "dihilangkan", dan kini hanya menjadi cerita pengantar tidur anak-anakku.
Kereta Api Uap, pengangkut Tebu
Kereta Api Uap, pengangkut Tebu
Pabrik Gula dan hamparan kebun tebu, menjadi bagian hidup masa kecilku, karena kehadiran Pabrik Gula menjadi denyut roda kehidupan masyarakat kami saat itu.
 
Bangga Menjadi Pencuri :
Kadang masyarakat menyebut Pabrik Gula dengan disingkat PG.
Pabrik gula mempunyai bagian Satuan Kemanan, yang bertugas mengawasi tanaman tebu, termasuk saat diperjalanan pada proses pengangkutan saat musim tebang dari Kebun menuju Pabrik . Masyarakat menamakan personil kemanan ini dengan sebutan PG (sebenarnya singkatan dari Pabrik Gula), atau kadang disebut KP (Singkatan dari Keamanan Pabrik).
 
Nah…karena Tebu itu tanaman yang enak untuk dihisap-hisap sari tebunya, langsung dari batang pohonnya, maka banyak penduduk termasuk anak-anak yang mencuri tebu.
 
Caranya dengan membawa pisau atau golok, masuk ke area perkebunan tebu yang rapat. Biasanya kami masuk ke bagian tengah, disana kami merayap-rayap diselokan yang yang memanjang diantara Blok-blok area kebun. Di kebun ini kami menikmati langsung, dan sebagian kami potong-potong untuk dibawa kerumah.
 
Pekerjaan mencuri ini dilakukan sangat hati-hati karena bila diketahui oleh PG atau KP, maka akan dibawa ke Pabrik dan diproses untuk diambil tindakan bahkan kurungan.
 
Tapi pekerjaan mencuri ini menjadi satu tantangan tersendiri bagi anak-anak kampung. Kalau seorang bocah kecil sudah berhasil mencuri tebu tanpa diketahui oleh para PG, maka seperti menjadi lambang prestasi dan kebanggaan di komunitas anak-anak rekan sepermainannya . Ironis memang, menjadi pencuri malah menjadi kebanggaan !
 
Aneka Olahan Tebu, Kreasi penduduk :
Kalau di kota besar, seperti Jakarta, untuk menikmati tebu, kita minum air perasannya yang digiling pakai mesin penggiling. Tahun 80’an minuman ini banyak terdapat ditempat-tempat umum dipinggir-pinggir jalan di Jakarta. Bahkan sekarang lebih modern, diolah dan disajikan di jual di dalam Mall.
 
Tapi bagiku, yang lebih nikmat menikmati air tebu bukan meminum air gilinganya seperti itu, tetapi langsung mengisap airnya dari batang tebu yang telah dikupas kulitnya.
 
Setelah Tebu dikupas kulitnya, tebu dikerat kerat melintang batang. Kemudian dipotong berdasarkan keratan itu. Dan langsung kita menggigit dan menghisap airnya. Kemudian sepahnya dibuang. Makanya ada pribahasa, Habis Manis Sepah Dibuang.
 
Salah satu jenis tebu yang banyak diminati ini didaerahku, masyarakat menyebutnya Tebu jenis Markonah. Batangya besar, berwaran hijau, batanganya tidak keras. Jenis ini sangat enak untuk dinikmati. Tidak terlalu manis dan mudah untuk memotong dan menghisapnya. Tapi sayang jenis ini semakin langka karena kurang menguntungkan bila untuk produksi gula.
 
Nah…untuk menambah citra rasa tebu tersebut biasanya kami melakukan beberapa cara olahan sederhana.
 
Ada 3 cara yang umum dilakukan oleh penduduk Jatiwangi dan sekitarnya.
Yang pertama, adalah dengan cara tebu dikupas, kemudian dipotong-potong melintang menjadi bagian yang cukup untuk masuk kemulut.
 
Kemudian kita membuat tusukan dari bamb, dimana bambu tersebut dibelah menjadi tusukan kecil, tetapi tusukan tsb diujung bambu tetap menyatu seperti awalnya bambu tsb. Jadi seperti jari-jari tangan kita yang ujungnya menyatu, atau seperti jari-jari sebuah Payung atau seperti susunan Sapu Lidi.
 
Tebu yang kecil-kecil itu di tusuk-tusak ke tusukan tsb (seperti sate). Setelah itu Tebu yang berupa rencengan tusukan di jemur diterik matahari selama 3 - 4 hari. Maka setelah waktu tersebut Tebu dapat dinikmati (dihisap) dengan aroma dan rasa yang lain. Tebu yang tersaji dengan cara ini disebut Rancungan.
 
Cara Kedua, Batang Tebu tanpa dikupas kulitnya direndam di air. Setelah lebih kurang satu minggu, baru dikupas dan dipotong-potong. Ini rasanya akan lain dengan cara pertama, mungkin kadar alkoholnya terbentuk. Semakin lama direndam, semakin terasa bau aromanya.
 
Cara Ketiga, dengan cara dibakar. Batangan tebu tanpa dikupas, dimasukan ke perapian tempat memasak nasi yang meggunakan kayu bakar. Didaerah Jatiwangi atau Jawa Barat pada umumnya, tungku ini dinamakan Hawu.
 
Nah bila telah dipanaskan secukupnya diantara bara api kayu bakar tersebut, kita diinginkan dan dikupas kulitnya. Kemudian dipotong-potong kecil untuk dinikmati. Yang ini rasanya lain lagi dan wanginya khas.
 
Itulah Kreasi orang kampung untuk menikmati berbagai rasa dan aroma Tebu. Yang pasti semua Tebu tersebut hasil dari nyolong dari Kebun Tebu milik Pabrik Gula !
 
Gembel :
Tebu ditanam dengan stek batangnya langsung ditancapkan ditanam ditempat yang telah disiapkan.
 
Sebelum ditanam, dari batangan Tebu pilihan itu dipotong-potong, dengan cara memotong miring, jadi dipinggir setiap potongan itu runcing.. Biasanya hal ini dilakukan oleh para pekerja dipinggir kiri kanan Rel Kereta.
 
Ada beberapa sisa potongan yang pendek-pendek, panjangnya variatif, dari sekitar 5 cm sampai yang panjang. Yang jelas semuanya adalah sisa potongan dari batang yang dijadikan bibit untuk ditanam. Potongan ini berserakan dipinggiran jalan rel kereta.
Potongan ini bisa kita langsung nikmati, potongan tebu sisa ini dinamakan Gembel.
 
Bagi pejalan kaki yang melewati Rel Kereta ini, Gembel menjadi hal yang membantu dikala haus. Langsung pungut, kupas langsung pakai gigi (karena sudah berupa potongan pendek), nah kitapun berjalan sambil memungut-mungut Gembel, jadilah seperti seorang Gembel berkelana dan kehausan !
 
Saat Tebu Berbunga :
Setiap pohon terdapat satu batang bunga, dan diatasnya sekumpulan putih dan halus. Bunga-bunga Tebu melambai-lambai tertiup angin. Kala ini, diatas kebun tebu terhampar warna putih bunga-bunga tebu. Sebuah lukisan keindahan alam kampung kami.
 
Batang bunga-bunga Tebu ini, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keceriaan permainan anak-anak kampung, dapat dibuat sebagai bahan mainan anak-anak.
 
Hujung, Dari Atap Sampai Bahan Bakar Memasak :
Saat Tebu sudah tumbuh tinggi, daun-daunya yang panjang dan telah tua, biasanya mengering secara alami, dan mempel di batang-batang pohon tersebut.
 
Masyarakat kampung sekitarnya memanfaatkan daun-daun kering ini. Daun ini bisa menjadi pengganti Kayu Bakar untuk memasak ditungku-tungku atau Hawu.
 
Namun ada juga masyarakat yang rajin memanfaatkan daun-daun ini dengan cara ditumpuk merata dan diikat dibagian tertentu, seperti membuat Rumbia. Maka hasilnya berupa bagian kumpulan daun tebu kering yang rapih dan ini biasa digunakan untuk atap Kandang Ternak, atau bahkan atap rumah sebagai pengganti Genting.
Daun Tebu kering ini, dikampung kami, Jatiwangi, dinamakan Hujung.
 
Sang Sinder dan Lori :
Mulai dari musim tanam sampai musim tebang, Petinggi atau Staff dari Pabrik Gula sering melakukan pengontrolan langsung ke lapangan.
 
Petinggi ini biasa disebut Sinder. Semua pekerja akan menghormati sekali kepada Sinder. Sang Sinder berpakaian baju Dinas, stelan khas warna Coklat Muda. Memakai Topi khas sejenis helm bergaya Kolonial.
 
Saat mengontrol, Sang Sinder naik di Lori, seperi sebuah Beca, namun berjalan di atas rel kerete dengan pengayuh dibelakangnya. Lori ini tanpa atap.
 
Pesta Tebu, Pesta Rakyat :
Saat Tebu telah siap untuk ditebang, ini adalah bagian saat-saat yang bukan saja dinantikan oleh pihak Pabrik Gula, tetapi juga sangat dinantikan oleh penduduk.
 
Betapa tidak ? Karena saat akan ditebang, maka Pihak Pabrik Gula akan melakukannya dengan sederetan upacara tradisi yang akan merupakan hiburan tersendiri bagi masyarakat kampung yang memang haus akan hiburan.
 
Sebelum secara resmi Tebu dipotong, Pabrik Gula akan mengambil tanaman yang akan dipotong pertama kali.
 
Potongan pohon yang ditebang pertama kali ini terdiri dari dua batang, yang akan dibawa ke Pabrik. Kedua Pohon ini biasanya dibungkus kain putih, dijadikan sebagai sepasang Pengantin Tebu dan akan diarak selama perjalanan Kebun Tebu ke Pabrik, diikuti romongan manusia yang berjalan. Hal ini menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat sepanjang jalan yang dilaluinya.
 
Upacara tradisi ini sebagai gambaran ungkapan rasa terima kasih kepada Sang Maha Pencipta yang telah memberikan limpahan panen Tebu. Hal ini seperti ungkapan Thanksgiving Day pada masyarakat modern.
 
Setelah itu Pabrik Gula juga menyelenggarakan pasar malam siang malam selama satu minggu yang diikuti oleh para Pedagang dan Hiburan kesenian maupun Permainan (Comedí Putar, Tong Setan dlsb). Masa-masa seperti ini sangat dinanti-nantikan oleh Masyarakat , untuk sekedar belanja dan menikmati hiburan yang ada. Masa pesta ini dinamakan Badirian. Entah dari mana asal sebutan itu.
 
Yang jelas masa pesta kegembiraan ini sungguh menggambarkan adanya keterikatan pihak Pabrik Gula dengan masyarakat disekitarnya. Pesta Tebu, adalah Pesta Pabrik Gula dan Pesta Masyarakat.
 
Dari Bison Sampai Semar :
Tebu yang dipotong diangkut oleh Kereta Api yang dimuat dalam deretan rangkaian Lori, yang dikampung kami disebut Gotrok. Setiap Gotrok panjangnya hanya lebih sedikit dari panjang rata-rata batang Tebu.
 
Kereta Api nya disebut Sepur. Kereta api ini termasuk barang langka yang sudah berumur lebih dari setengah abad. Teknologinya sangat sederhana, digerakan dengan mesin uap. Bahan bakar untuk menghasilkan uapnya dari hasil membakar “ampas gilingan tebu” sisa gilingan dari Pabrik.
 
Seingatku di Pabrik Gula Jatiwangi mempunyai 6 unit Sepur. Setiap Sepur diberi nama. Pernah diberi nama deretan nama Wayang (misalnya Semar, Bima, Arjuna dlsb). Namun pernah pula diganti menggunakan nama Binatang (Bison dlsb).
 
Sebagai tanda komunikasi saat jalan, Sepur ini menggunakan bunyi seperti peluit sebagai klaksonnya. Bunyi ini juga berasal dari mesin uapnya.
 
Uniknya, setiap Sepur mempunyai warna suara tersendiri.
 
Ngarorod, Lambang Keberanian :
Selain pengangkutan Tebu dilakukan dengan Sepur, juga dilakukan dengan diangkut menggunakan mobil Truk.
Sepanjang jalan saat kendaraan-kendaraan tersebut berjalan mengangkut Tebu, bukan berarti aman dari pencurian yang dilakukan oleh penduduk yang dilewatinya.
Pengambilan atau lebih tepatnya pencurian Tebu dari angkutan yang sedang berjalan ini dinamakan Ngarorod. "Keberhasilan" seseorang Ngarorod, akan menjadi lambang Keberanian orang tersebut, Jadi semacam prestasi tersendiri dimata teman-temannya.
 
Menanti Uang Sewa, Menyambut Keceriaan :
Area kebun Tebu bukanklah seluruhnya area milik Pabrik Gula. Tetapi adalah lahan sawah milik Penduduk yang disewa.
Setelah usai masa Giling Tebu, pihak Pabrik Gula akan membayar uang sewa. Inilah saat keceriaan.
 
Mengumpulkan Ekor Tikus :
Untuk membasmi Tikus yang berkeliaran di kebun Tebu dam sekitarnya, pihak Pabrik Gula menyuruh para kuli untuk membasminya. Caranya cukup unik. Setiap Kuli diberi alat semacam Pompa manual yang diputar.
 
Kemudian di sekitar ujung moncong pompa ini dibakarlah Belerang. Nah..asap belerang itu melalui bagian moncong Pompa diarahkan ke lubang liang tempat Tikus bersarang. Tikus pun keluar lubang dalam keadaan lemas.
Kemudian dimatikan. Ekornya dikumpulkan. Dan ekor-ekor itu dibawa ke Pabrik Gula untuk dihargai sejumlah uang sebagai jasa turut menumpas hama tikus.
 
Gotrok, Transportasi Bertenaga Manusia :
Pada saat diluar musim tebang atau tanam, praktis rel kereta api ini tidak banyak digunakan. Kalaupun ada hanya digunakan oleh Lori, saat Sang Sinder mengontrol Kebun Tebu.
 
Pada masa itu, dimana rel kereta tidak digunakan, dari beberapa kampung banyak yang menggunakan sebagai jalan transportasi dari kampung ke kota Kecamatan Jatiwangi untuk berbelanja berbagai kebutuhan, dengan menggunakan Gotrok.
Gotrok ini menggunakan tenaga manusia (didorong).Berangkat pagi-pagi. Penarik Gotrok terdiri 2 orang. Suara yang khas saat roda Gotok melewati sambungan jalan Rel. Dikdak...dikdak...dikdak, mengiringi anggukan kantuk !.
 
Kerak Gula :
Pada saat diolah di pabrik, ada bagian gula yang berada di dasar tempat pengolahan. Gulanya berwarna coklat kehitaman, dan kadang kering seperti kerak.
Sisa gula ini diambil bebas oleh para pekerja.
 
Sisa Gula ini dinamakan Peueut . Rasanya sama, tetap manis, hanya kotor, namun wangi. Bagi penduduk saat itu, ini merupakan hal yang istimewa, layaknya Permen.
 
Sengong :
Di Pabrik Gula terdapat Menara sebagai Lubang Pembuangan asap proses produksi gula. Pada saat tertentu tekanan uapnya dikeluarkan dan mengeluarkan suara yang keras berbunyi Hung...! Kami menamakan suara ini adalah Sengong. Dan suara ini terdengar berpuluh kilometer..!
Pada waktu bulan Ramadhan, Sengong dibunyikan sebagai tanda Buka Puasa dan Imsak.
 
Jip Willys dan Obsesi Masa Kecil :
Karena jalan sekitar kebun Tebu adalah jalan tanah, Pabrik Gula menggunakan kendaraan jenis Jip yakni Jip buatan Amerika, Jip Willys. Saat itu jip ini umunya buatan tahun ’50 an. Di pertengahan era ’70 an. Ada beberapa unit menggunakan Jip CJ5 Canvas, yang merupakan produk lanjutan dari Willys.
 
Karena saat itu mobil masíh langka, kehadiran Jip ini menjadi perhatian penduduk yang daerahnya dilewati. Kehadiran dan kegagahan Jip Willys sangat berbekas dalam benak masa kecilku saat itu, dan menjadi obesi memilikinya.
 
Aroma Kolonial :
Pabrik Gula Jatiwangi seperti juga umumnya pabrik gula yang ada di Indonesia adalah sisa-sisa Kolonial. Maka disamping istilah-istilah yang ada, culture, mesin-mesinnya, termasuk bangunan-bangunannya berbau Kolonial.Cerobong pembuangan asapnya dibuat dari tumpukan bata-abat merah yang tersusun menjulang tinggi. Sekeliling luarnya di cat putih.
 
Dibagian area produksi, jalur-jalur rel dengan deretan Lori yang ditarik Kereta Api berjejer. Orang kampung kami menyebut Lori-lori tersebut, dengan sebutan Gotrok.
 
Rumah-rumah pimpinan dan staff dan Pimpinan Pabrik Gula tertata rapi, dengan halaman yang luas, dan satu sama lain terpisah halaman dikiri kanan yang juga luas. Rumah-rumahnya masih bergaya Kolonial,  tinggi bergaya Eropa.
 
Pabrik Gula, Ceritera Pengantar Tidur Anaku :
Sayang sekali, suasana peninggalan bersejarah itu kini hanya tinggal puing-puing rata dengan tanah .
Kemanakah larinya Sang Sepur yang bunyi ”kuik-kuiknya’ selalu kami nantikan ? Kemanakah perginya suara Sengong yang selalu aku nantikan saat berbuka puasa ? Kemanakah larinya rel-rel jalan kereta yang panjang memanjang menghubungkan antara kampung sekitar kami ?
Banyak Pabrik Gula ditutup, dihancurkan. Sebuah ketidak pedulian kepada bagian dari perjalanan sejarah bangsanya sendiri !
 
Denyut kehidupan Pabrik Gula dan masyarakat sekitarnya, bangunannya, adalah bagian dari torehan sejarah didalamnya, kini tinggal kenangan, dan hanya menjadi cerita pengantar lelap tidur anak-anaku..!!
 
( Momon S. Maderoni )
(Anda harus login untuk mengirim komentar/balasan, Anda dapat mendaftar di sini)
bahasa/language: Bahasa Indonesia English Language
Excelsis Fine Fragrances -Handcrafted With Real Essential Oils
Mastershop
BigYellowzone.com - Pengembang Web - Belanja Spesialis
Iklan di Sini - Dapatkan Jangkauan Worldwide dan Lokal dengan mempromosikan bisnis Anda di warta-majalengka.com

Kebijakan Privasi dan Ketentuan

Kami menjaga privasi serius.

Kami menghargai privasi dari pengunjung situs kami / anggota sangat serius.
Silakan klik di sini untuk melihat kebijakan privasi kami dan istilah umum, yang juga mencakup rincian dari "yang dapat melihat apa?" mengenai informasi yang Anda masukkan di situs, dan pendekatan umum kami / istilah untuk penggunaan situs.

Hak Cipta © 2011-2014 BigYellowZone. All Rights Reserved.
Dirancang/Dibuat oleh: BigYellowZone.com